Setelah sekian waktu menekuni dunia arsitektur sebagai praktisi, saya rasakan kuatnya besaran gaya yang menyeret profesi
ini menjauhkan diri dari dunia kebanyakan. Spektrum kenyataan terhampar lebar di
depan mata. Bukankah semestinya banyak kemungkinan yang bisa terjadi? Tetapi ketika berbicara tentang dunia praktisi, rentang spektrum tadi seakan begitu mengecil. Idiom kota besar dan kantor besar, proyek bernilai besar, seakan selalu menjadi pilihan ruang geraknya. Beberapa tahun lalu (mungkin masih sampai sekarang), Jakarta hampir selalu menjadi pilihan terbesar setelah lulus untuk memulai menjadi praktisi. Ketika krisis berlangsung, kita melihat serapan lulusan baru berkurang pesat, bahkan banyak praktisi yang telah beralih ke bidang lain. Apakah benar profesi ini hanya mampu bertahan dan berkembang pada pelayanan lapis atau golongan tertentu saja?

Buku ini mencoba memperlihatkan spektrum pekerjaan yang bisa dilakukan oleh sebuah praktek arsitek. Kita bisa saja dihadapkan pada karya sebuah rumah tinggal pada kisaran 100 juta rupiah, sementara di tempat lain, hanya berarti sebuah kitchen set. Atau ada contoh bangunan ibadah berdaya tampung sekitar 1.000
orang yang dibangun di atas lahan 3.000 m2, sementara tidak jauh darinya berdiri rumah tinggal di atas lahan seluas 7.000 m2. Lebih mengherankan lagi ketika diketahui peruntukan sebelumnya adalah lahan bangunan umum. Kutub-kutub berseberangan tersebut bisa saja muncul dalam dunia yang sama. Kebenaran ber-arsitektur mendadak menjadi begitu relatif, sebanyak kemungkinan yang bisa ditawarkan. Kenyataan semacam inilah yang menjadikan posisi profesi arsitek bisa begitu relatif. Inilah sebagian dari relativitas itu, arsitek berdiri di atas cara pandangnya masing-masing, dan pada akhirnya mendapati dirinya pada posisi yang berbeda-beda.

“Relativitas” lebih merupakan catatan pribadi, suatu kumpulan acak pemikiran dan karya hasil pergelutan dalam praktek arsitek yang telah, sedang, dan ingin saya jalani. Buku ini memaparkan keinginan sebuah praktek arsitek untuk bergerak di atas cara pandangnya, dalam berbagai skala proyek dan berusaha tetap menjadi bagian dari kenyataan-kenyataan yang sedang bergulir. Mulai dari hal yang kasat mata seperti relatifnya massa bangunan hingga hal yang tidak kasat seperti cara pandang merancang. Ada bangunan berluasan di bawah 50 m2 hingga lebih dari 20.000 m2 dalam berbagai fungsi. Begitu besar rentang angka-angka tersebut, sebesar rentang permasalahan yang menjadi latar belakangnya. Keterkaitan rancangan terhadap isu kota pun menjadi hal yang sangat relatif dipertanyakan. Apakah bangunan umum dan besar saja yang mampu berbicara dalam hal meng-kota? Bukankah rumah tinggal jika dilihat dari jumlah massanya, akan cukup signifikan menjadi permasalahan kota? Ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam berbagai isu dan banyak yang belum tuntas terjawab. Buku ini bermaksud mengangkatnya menjadi pertanyaan bersama.

Tidak sebagaimana banyak buku atau majalah arsitektur yang sekarang ini tampil gemerlap bertabur imaji, buku ini tidaklah berusaha tampil ‘seksi’ dan atraktif. Memang ada kesengajaan menghindari hal itu, karena rancang bangun ruang dipercaya
tidak bisa direpresentasikan hanya dengan foto-foto saja. Saya berpandangan ‘kuno’ dalam hal ini: kenyataan sebuah ruang seharusnya dialami secara langsung. Hal ini menjelaskan mengapa representasi yang paling mendekati sebuah ruang adalah maket atau miniatur. Dengan mencoba memaparkan ide dalam bentuk teks yang dibantu gambar dan foto seperlunya untuk penjelasan, rancang bangun ruang dikembalikan lagi sebagai proyeksi denah dan potongan, alat lama yang lebih terukur dalam telaah arsitektur.

Apapun yang terwujud dalam buku ini tidaklah lepas dari peran serta setiap orang yang pernah saya temui langsung maupun dari tulisan, baik itu para guru, rekan-rekan arsitek, rekan-rekan kerja, para klien, dan semua yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu di sini. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih. Sekiranya ada beberapa bentuk pengetahuan pinjaman yang tidak mampu saya ingat kembali sumbernya, saya memohon maaf. Semoga buku ini bisa mempunyai manfaat seperti yang diharapkan.

Jakarta, Juli 2005

Adi Purnomo