Project

Rumah Ciganjur

Category

Location

Jakarta

Client

Private

Year

2001

Area

990m²/200m²

Related Research

Rumah Ciganjur mempunyai indikasi mempertanyakan ‘arsitektur arus besar’ yang sedang berkembang. Indikasi pertama terlihat dari alasan pemilik memilih lokasi di kampung seperti ini. Mereka memang menghindari tinggal di dalam perumahan ataupun real estate karena ingin membesarkan anak-anak dalam situasi yang heterogen dan lebih nyata. Sebuah hal yang tidak bisa didapati di perumahan tempat tinggal mereka sebelumnya, terlebih lagi anak-anak mereka bersekolah di lingkungan yang homogen pada kelas sosial tertentu.

Indikasi kedua datang dari sikap dan cara menghuni, yang pasti akan sulit disediakan oleh rumah-rumah ‘arus besar.’ Saya ingat sekali permintaan pemilik saat pertama kali bertemu, yaitu untuk tidak membuat ruang pembantu terlalu kecil seperti yang biasa mereka lihat karena dirasa tidak manusiawi. Pernyataan ini menunjukkan cara bersikap dalam menghuni rumah, yang kemudian melahirkan banyak diskusi lain

Tidak seperti di perumahan pada umumnya, rumah ini memang dirancang berdasarkan kebiasaan khas keluarga yang tinggal di dalamnya. Ruang bersama sebagai tempat bercampurnya aneka kegiatan akan lebih banyak terpakai daripada ruang-ruang tidur. Dapur adalah sentral, padahal aktivitas makan bisa terjadi di berbagai tempat.

Kebiasaan-kebiasaan pemilik yang lebih spesifik di rumah lama menjadi penting dipelajari guna diterapkan di rumah baru. Ada tiga pola kebiasaan di rumah
lama yang cukup menjadi perhatian. Pertama, selalu membuka semua pintu jendela sejak subuh hingga sore, kecuali saat rumah kosong. Kedua, cara menempatkan fungsi lemari pakaian bersama pada bagian terjauh, supaya rumah selalu terkontrol kebersihannya. Ketiga, ikatan dalam keluarga sangat kuat, jadi dominasi ruang tidur sama sekali tidak ada. Semua hal hampir terjadi di luar ruang tidur. Bahkan, kamar mandi pun tidak perlu ada di setiap ruang tidur.

Di denah akan terlihat cukup jelas keterbukaan berbagai ruang dibandingkan dengan keberadaan ruang- ruang tidur. Pengertian bahwa semua ruang dalam rumah sebetulnya bisa menjadi multifungsi adalah hal yang diterjemahkan pada Rumah Ciganjur ini. Rumah dibawa kepada fungsi yang paling esensial yaitu tempat bernaung.25 Keterbukaan dan hubungan antar ruang yang cair adalah hal yang akan terjadi, baik di ruang luar dan di ruang dalam. Inilah alasan teras-teras yang besar dan semua dirancang berada dalam satu ketinggian, supaya orang mengalami ‘aliran’ ruang dalam dan luar sepenuhnya.

Rumah yang terbagi menjadi dua massa adalah penyesuaian dari sebagian besar tapak bangunan lama. Rumah utama mempunyai empat ruang tidur (satu untuk orang tua dan tiga untuk anak) dengan satu kamar mandi, ditambah dapur yang juga bisa berfungsi sebagai area makan. Fungsi ruang keluarga, makan dan baca terhampar sebagai ruang yang cair. Jadi sebenarnya definisi ruang-ruang tersebut tidaklah tertentu.

Rumah belakang terdiri dari satu ruang tidur tamu yang berfungsi juga sebagai ruang kerja dengan kamar mandi, untuk orangtua yang sering datang menengok. terdapat pula ruang serbaguna untuk belajar, bermain, dan sembahyang, (yang bisa juga berfungsi sebagai
ruang keluarga atau area makan) serta kamar pembantu dengan, kamar mandi dan area cuci-setrika.

Dapur yang berada di titik sentral, mempunyai keuntungan melihat ke semua sudut lahan
dengan mudah. Di denah, peletakan ruang-ruang tidur terlihat sangat krusial menciptakan orientasi dan privasi dengan penggunaan dinding seminimal mungkin dalam rumah ini. Ruang-ruang tidur anak dibuat pada orientasi keluar yang berlainan untuk memberi privasi ketika mereka sudah tumbuh lebih besar. Pintu-pintu ruang lain bisa dibuka lebar sepenuhnya, seperti perilaku keluarga ini pada rumah sebelumnya, sehingga rumah ini lebih menyerupai teras yang sambung-menyambung. Garasi dibuat multifungsi karena pola kehidupan seperti di Jakarta menyebabkan ruang tersebut lebih sering kosong.
Prinsip-prinsip dasar fisika bangunan kembali diterapkan di sini dalam kerangka penghematan energi. Perwujudannya adalah; ventilasi silang, teritisan atap yang lebar, kolam air penyejuk, dan atap beton berlapis rumput. Pemakaian material cukup sederhana dengan lebih banyak memanfaatkan material terpapar telanjang kecuali pada langit-langit dan dinding kamar tidur.

Semua kayu dibiarkan tanpa finishing untuk mengurangi penggunaan bahan kimia, selain pertimbangan biaya. Kusen-kusen diminimalkan, hanya digunakan pada bagian yang paling diperlukan. Lantai hanya diplester biasa saja. :
anskap di sekitar pagar ditaburi kerikil, selain sebagai media pemijat telapak kaki, juga sebagai sistem alarm sederhana karena akan berbunyi jika diinjak.

Sikap terhadap rumah yang seperlunya ini, memberi dampak yang berarti pada efisiensi biaya dan meminimalkan ketergantungan terhadap berbagai sistem di luarnya. Yang paling terlihat adalah rumah ini bisa bekerja tanpa penggunaan AC sama sekali. Rumah ini mampu bertahan dengan pemakaian listrik 2.200 watt saja, pada rasio sekitar 7,5 watt/m2 atau 4,4 watt/m2, jika dihitung termasuk dengan penerangan taman. Semua air limbah dimasukkan ke dalam sumur resapan dengan pengolahan secara konvensional, supaya tidak harus terlalu tergantung kepada sistem lingkungan yang ada.